SAHABAT MADRASAH

Minggu, 31 Juli 2011

Nasihat


Ukhti…Besarnya tudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju redha Tuhanmu, mungkinkah besarnya tudungmu hanya di gunakan sebagai fesyen atau gaya zaman sekarang ? Atau mungkin tudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan jejaka yang diidamkan, bahkan boleh jadi tudung besarmu hanya akan dijadikan sebagai identitimu saja, supaya boleh mendapat gelaran akhwat dan di kagumi oleh banyak jejaka.

Ukhti…Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin boleh menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan dirimu sendiri, cuba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah ditutupi?? Bukankah kebiasaannya buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sedari melalui pelakuan-pelakuan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu..

Ukhti…Lembutnya suaramu mungkin selembut sutera bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suaramu sama dengan lembutnya kasihmu pada saudaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu??


Ukhti…Lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak Palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan titis darah terakhir.. Akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang tidak kisah dan prihatin melihat orang lain tertindas.


Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan solat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut syaitan dan dibuaikan dengan mimpi-mimpi indahmu bahkan lupa bila bangun solat subuh.

Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin boleh mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu boleh ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang kamu dapatkan, ataukah kamu tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan iaitu maksiat


Ukhti…Tunduk pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tunduknya semangatmu untuk berani menundukkan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan kamu hadapi bermula dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu peribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu..



Ukhti…Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas di palestin, pernahkah kamu menangis ketika mujahid-mujahidah kecil ditembak mati, atau dengan mudah membiarkan begitu saja, pernahkah kamu merasakan bagaimana rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan..



Ukhti…Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat. Cuba kamu perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga kamu sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman mereka belum merasakan apa yang kamu rasakan,boleh jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berperilaku binatang yang tak karuan. Sanggupkah kamu menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka boleh merasakan sama apa yang kamu rasakan iaitu betapa lazatnya hidup dalam kemuliaan Islam??


Ukhti…Tebalnya tudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada Zat Pencipta..Kamu adalah salah satu salah salah satu sasaran syaitan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua syaitan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan dicorak carik oleh tipuan syaitan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus kamu lakukan bermula dari dirimu sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, bila lagi cuba….


Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah kamu membanggakan diri ketika berjaya dakwah telah diraih dan merasa diri paling hebat, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas diatas rata-rata kawan yang lain, sombong itukah hatimu, lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu


Ukhti…Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infaqmu ke masjid atau surau.. Sedarkah kamu kalau kotak-kotak derma di masjid masih kosong dan merisaukan. Tidakkah kamu memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa wang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, mahukah kamu di beri rezeki seburuk itu.


Ukhti…Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah isnin khamis yang kamu laksanakan, kejujuran hati tidak boleh di bohongi, kadang2 semangat fizik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semangat ruhani tanpa di sedari turun mendadak, puasa yaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa isnin khamis yang dirasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati kamu, makanan fizik yang kamu fikirkan dan ternyata ruhmu pun perlu stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.

Ukhti…Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap sombongmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang kamu lewati, sikap ramahmu pada orang yang kamu temui sangat jarang dilihat, bahkan selalu dan selalu terlihat riak dan bebalmu, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap dakwah yang memerlukan banyak berjumpa manusia, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan kamu tapi… kamulah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah


Ukhti…Rajinnya solat malammu (tidak menjamin) keistiqamahan seperti Rosulullah sebagai ikutanmu..


Ukhti…Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap Zat Yang Menciptakanmu,Masihkah kamu senang bermanjaan dengan Tuhanmu dengan solat dhuhamu, solat malammu??Ukhti…Dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi.Akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah kamu ketika sang mujahid akan segara menghampirimu


Ukhti…Masih ingatkah kamu terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik.Jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu..


Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan berjaya masuk dalam syurga Rabbmu.Maka tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidupmu sehari-hari

Ukhti…Muhasabah yang kamu lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan kamu yang dilakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu.Sungguh lupa dan leka tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, kamu tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai bila akhlaq burukmu di lupakan, kenapa muhasabah tidak dijadikan sebagai saat untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang baik hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik


Ukhti…Pernahkah kamu bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan gagah.Bukankah apa yang kamu fikirkan sama dengan yang ikhwan fikirkan yaitu ingin mencari isteri yang solehah dan seorang mujahidah??Kenapa tidak dari sekarang kamu mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah??

…Apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri kamu, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama menonton TV dan hanya akan mengeraskan hati Sampai lupa waktu, lupa bantu orang tua, bila akan menjadi anak yang birrul walidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai bila,Bilakah kamu akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah??


Ukhti…Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura tunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali melirik seperti mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena berkerudung besar??


Ukhti…Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah kamu menjaga kemuliaan yang kamu punya, atau sebaliknya kamu bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merosakkan maruah akhwat yang lain, kadang-kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalau kamu sendiri menonjolkan akhlaq yang buruk maka akan merosakkan maruah akhwat yang lain

Minggu, 19 Juni 2011

10 CIRI WANITA PILIHAN



Assalamu'alaikum
"Dahulukan mengucap salam, ucapkan selamat dengan senyuman, tumpukan perhatian anda kepada mereka agar anda menjadi orang yang sangat mereka cintai dan dekat dengan mereka."
Seramai-ramai wanita di muka bumi ini, ada antaranya menjadi orang terulung dan terunggul, dan ada juga yang berada dalam kedudukan yang rendah dan hina. Apabila ditanya pada diri kita, bagaimanakah cara atau panduan untuk kita menjadi WANITA PILIHAN DI MATA ALLAH?

1. MENUTUP AURAT
Wanita tidak digalakkan memakai pakaian yang berlebihan seperti memakai hiasan terlalu mahal, biarlah dengan cara bersederhana tetapi cantik, bersih dan kemas.

2. MENJAGA AKHLAK
Wanita berakhlak serta bertaqwa selalunya tampil menawan. Ini kerana keikhlasan yang lahir dari hatinya terpancar di wajahnya. Segala yang dilakukan oleh dirinya hanyalah disandarkan kepada Allah SWT. Dengan keyakinan terhadap Allah adalah segala-galanya, insya-Allah, hidupnya akan menjadi lebih mudah.

3. CARA BERCAKAP
Dalam pergaulan harian, wanita hendaklah bercakap ringkas dan tegas kepada lelaki bukan Muhrim. Percakapan yang lemah-lembut dan pandangan mata yang mengasyikkan boleh membangkit perasaan istimewa kepada orang lelaki. Memang benar suara yang lunak itu menyebabkan hati lelaki menjadi cair. Oleh itu, berhati-hati ketika bertutur.

4. TAAT
Wanita yang solehah adalah wanita yang taat kepada Allah SWT. Ketaatan itu adalah mahkota bagi orang Islam. Ini kerana terdapat banyak cabaran dan dugaan di luar sana. Dengan ketaatan yang jujur dan ikhlas kepada-Nya, ia dapat mendorong manusia berjalan di jalan yang benar tanpa mudah dihasut oleh syaitan.

5. SUKA MENDENGAR
Kebanyakan wanita suka mendengar dan bercerita berbanding dengan orang lelaki. Sifat-sifat ini memang perlu untuk meringankan masalah orang lain terutamanya pasangannya. Isteri yang baik akan mendengar masalah suami dengan sabar dan tenang. Ia akan mengurangkan tekanan suami itu terhadap masalahnya. Sekiranya si isteri ingin menasihati suami, gunakan pendekatan secara diplomasi. Ini kerana si suami mempunyai sikap ego yang tinggi. Wanita yang terlalu banyak membebel akan membuatkan suami mudah berasa bosan, kemungkinan besar suami tidak ambil pusing dengan apa-apa yang dibebelkan oleh isterinya.

6. JAGA PANDANGAN MATA
Pandangan mata itu umpama panah yang beracun. Jika tersilap pandang, ia boleh meracuni jiwa yang melihat. Wanita solehah hendaklah menjaga pandangan mata mereka terutama ketika bercakap. Sekiranya kita bercakap dengan orang yang bukan muhrim elakkan dari memandang terus ke dalam anak matanya. Jika tidak mahu orang itu berasa hati, cakaplah sambil memandang kearah bahagian telinganya.

7. JAGA KEBERSIHAN DAN KEKEMASAN
Kebersihan itu separuh daripada iman. Bersih melambangkan nilai-nilai Islam yang perlu diambil berat. Untuk mencipta suasana selesa, aman dan damai, pastikan rumah yang didiami itu sentiasa bersih dan kemas.

8. HADIRKAN BAU YANG SEDAP ATAU WANGI
Bagi wanita Muslimah, elakkan bau badan yang kurang menyenangkan. Tetapi ini tidak bermakna dia perlu menggunakan minyak wangi yang berlebih-lebihan. Cukuplah sekadar hilang bau yang tidak sepatutnya.

9. WANITA PUNYA HAK
Seseorang lelaki tidak berhak mengahwini seorang wanita jika empunya diri tidak suka. Begitu juga lelaki yang berkahwin tidak boleh mengambil harta milik isterinya dengan sewenang-wenangnya. Tetapi lelaki mempunyai kuasa dalam membuat keputusan berkaitan rumah tangganya kerana dia sebagai pencari nafkah. Bagaimanapun, seorang suami yang baik akan selalu berbincang dengan isterinya sebelum membuat keputusan.

10. PEGANGAN KEPADA AL-QURAN DAN SUNNAH RASULULLAH SAW
Muslimah pilihan adalah wanita yang menjadikan al-quran dan Sunnah sebagai panduan hidupnya. Segala persoalan dan permasalahan di dunia sudah ada jawapan dalam al-Quran dan Hadis. Oleh itu, orang yang selalu bersandarkan kedua-duanya tidak akan sesat.

Dengan kesepuluh-sepuluh cirri ini, insya-Allah kita sebagai wanita akan tetap menjadi WANITA PILIHAN-NYA

Sabtu, 18 Juni 2011

Sheikul Hadis Maulana Zakariya Dan Adab Belajar



Ketika Sheikhul Hadith Maulana Zakaria Kandahlawi (1898–1982), pengarang kitab syarah Muwata Imam Malik, Aujazul Masaalik, memasuki tahun akhir pengajian hadith beliau berazam tidak akan meninggalkan sebuah hadith pun tanpa berguru. Begitu juga sahabat sekelasnya Hasan Ahmad.

Mereka juga memastikan diri agar sentiasa berwuduk. Tetapi masalah yang timbul ketika pengajian berlangsung ialah terpaksa ke tandas kerana membuang air atau terbatal wuduk kerana kelas hadith memakan masa empat hingga lima jam untuk sesi pagi. Dua tiga jam di sesi petang. Sudah tentu perlu ke tandas samada untuk membuang air atau tajdid wuduk. Untuk memastikan mereka tidak ketinggalan daripada mendengar semua hadis di hadapan ustaz maka mereka berdua membuat suatu perancangan.

Kata Maulana Zakaria kepada kawannya jika aku terpaksa keluar kamu ajukan soalan kepada ustaz. Kalau dia selesai menjawab kamu ajukan soalan seterusnya sampailah aku masuk semula supaya ustaz tidak sempat berpindah ke hadis lain sebelum aku masuk. Begitulah kesnya jika Hasan Ahmad yang keluar maka Maulana Zakaria yang akan mengajukan soalan.

Setelah sekian lama ustaz mula perasan setiap kali salah seorang daripada mereka keluar maka yang seorang lagi akan mengajukan soalan. Tiba-tiba satu hari Hasan Ahmad terpaksa keluar kelas kerana wuduknya terbatal. Beliau memberi isyarat kepada Maulana Zakariya sebagaimana yang dijanjikan. Maulana Zakariya memulakan soalannya berkenaan dgn pandangan Allamah Ibnu Humam dalam kitab Fathul Qadir. Ustaz tersenyum sambil ketawa melihat gelagat soalan seumpama itu.

Mengetahui maksud Maulana Zakariya dengan soalannya itu beliau lantas berkata "Tak apalah sementara kita tunggu Hasan Ahmad datang aku akan ceritakan kepada kamu satu kesah. Tak payahlah aku bertarung menjawab berkenaan kenyataan Fathul Qadir kamu itu". Natijah daripada itu mengikut Maulana Zakaria tidak ada satupun hadis yg dipelajarinya yang tidak didengarinya di hadapan ustaz yg merupakan ayahnya sendiri Maulana Yahya Kandahlawi.

Begitulah halnya seorang yang mengutamakan kehadiran dan berguru semasa menuntut ilmu. Maka tidak hairanlah ilmu yang dituntutnya mendapat keberkatan. Ia diberkati sepanjang masa. (Ubahsuai petikan ucapan pengenalan pengajian hadis kitab Bukhari dalam bahasa Urdu oleh Maulana Taqi Uthmani di Darul Uloom Karachi.

Jumat, 17 Juni 2011

Mayat Tak Reput(Khusnul Khatimah Yang Diimpikan)

Karguzari (laporan) ini seperti yang diceritakan oleh Hj.Musa. Jenazah da'ie Allah ini adalah salah satu daripada jenazah-jenazah yang telah dipindahkan setelah mendapat kebenaran daripada tuan mufti atas permintaan pihak Keretapi Tanah Melayu Berhad (KTMB) dalam usaha pembinaan landasan keretapi laju Utara-Kuala Lumpur. (Gambar hiasan).



Hj.Musa menceritakan;


❝ Jika kita membaca Alquran dan Hadis-hadis nabi saw, kita akan berjumpa tentang berita-berita atau targhib tentang kemuliaan orang-orang beriman yang berjihad di jalan Allah swt dengan diri dan harta mereka yang mana mereka terbunuh atau syahid di Jalan Allah swt. Mereka ini dijanjikan syurga yang penuh kenikmatan oleh Allah swt, di Padang Mahsyar nanti mereka akan bangun di depan Allah swt dalam keadaan sebagaimana mereka syahid di dunia, ada yang terpotong telinga, hidung, tangan, kaki dan ada yang luka terburai keluar perutnya dan pelbagai keadaan. Mereka ini akan bangun di depan Allah dalam keadaan luka mereka baharu sahaja berlaku, darah masih segar merah lagi. Ada juga yang kita dengar ada orang menggali tanah untuk membangunkan kawasan, yang mana mereka tidak tahu dibawahnya ada kubur Sahabat nabi saw yang mati syahid terbunuh, bila sahaja mereka lihat mayat tersebut yang mana darah merah masih segar keluar walaupun sudah lebih seribu tahun berlalu, Allahuakbar.


Inilah kisah yang ingin aku paparkan untuk renungan kita bersama. Nama orang dan tempat berlaku sengaja aku rahsiakan, tetapi ini adalah kisah benar yang berlaku pada bulan Jun, 2010 yang lepas.


Sekarang pihak Keretapi tanah Melayu sedang membina landasan keretapi laju dari Utara ke Kuala Lumpur yang dijangka siap pada tahun 2012 nanti, yang mana apabila ia beroperasi kelak, masa yang diambil untuk perjalanan sehala dari Alor setar ke Kuala Lumpur hanya 3 jam sahaja. Dalam membina landasan keretapi baru ini banyaklah tanah, rumah, kedai kepunyaan rakyat diambil dan dibayar pampasan yang berpatutan oleh kerajaan yang dipeesetujui bersama. Sistem landasan keretapi mana-mana negara pun agak pelik kerana apabila landasan yang dibina ini melalui sungai atau tasik, maka akan dibinakan jambatan, bila ia merentas banjaran atau gunung ia tidak akan melencong tetapi sebaliknya akan mengorek bukit atau gunung menjadi terowong. Pendek kata, apa sahaja yang ia jumpa dihadapannya, ia tidak akan melencong sebaliknya benda dihadapan itulah yang kena berubah. (macam orang dakwah juga, apa sahaja halangan datang.. jangan elak diri tapi terus maju macam k/api). Perkara yang sama juga berlaku apabila landasan baru ini merentasi satu kawasan surau dan tanah perkuburan. Kubur ini akan dipindahkan ke tempat yang baru. Untuk mengubah kubur ini mesti mendapat persetujuan Tuan Mufti dan dibawah pengawasan pihak Polis. Tarikh pemindahan kubur ini telah ditetapkan. Mufti mengarahkan untuk setiap kubur hanya seorang atau dua orang waris sahaja dibenarkan untuk mengangkat atau melihat jenazah yang akan dipindahkan. Seluruh kawasan di kelilingi dengan pembatas dan dikawal oleh anggota polis. Hanya orang berkenaan sahaja dibenarkan memasuki kawasan tanah perkuburan tersebut. Penggalian disaksikan oleh Tuan mufti dan beberapa pegawai agama lain serta Pegawai Polis.


Tersebut kisah seorang wanita yang mana kubur suaminya juga termasuk senarai yang dipindahkan. Suaminya meninggal dunia 3 tahun lepas akibat sakit barah hati. Dia tidak mempunyai waris yang terdekat dan dia telah memohon kepada mufti supaya warisnya diganti dengan sahabat baik suaminya, tetapi tidak dibenarkan oleh mufti. Wanita ini merayu lagi katanya sahabat suaminya ini memang baik dengan allahyarham semasa dia sihat atau sakit dan bila meninggal dunia, dialah juga yang mengurus jenazah suaminya. Mendengar rayuan ini, mufti membenarkannya. Kedua-dua mereka, allahyarham dan sahabatnya merupakan kawan baik aku juga.

Beginilah ceritanya, setelah kubur dikorek, alangkah terkejutnya sahabat aku ini bila melihat kain kafan yang menutup allahyarham masih elok, tidak reput walaupun sudah 3 tahun berlalu. Bila tiba masa untuk mengangkat jenazahnya, tuan mufti mengarahkan supaya sehelai kain baru dibalut lagi dan melarang supaya jangan dibuka wajahnya (ikut syariat). Setelah siap dibalut dan bila sahaja sahabat aku dan beberapa orang lagi mengangkat jenazahnya, alangkah terkejutnya dia, dipegangnya tangan, masih lagi rasa tangan tidak reput, dipegangnya punggung, masih rasa ketulan punggung dan tidak reput. Badannya juga masih badan biasa, sama saperti jenazah yang baru dikebumikan semalam sahaja. Sahabat aku masa itu merasa bagai nak jatuh kerana terkejut. Wanita ini apabila melihat keadaan suaminya yang sedemikian terus menangis dan menangis sehingga jatuh terduduk. Selepas selesai kerja pemindahan, tuan mufti bertanya kepada sahabat aku, siapakah arwah tersebut dan tambahnya lagi ini adalah tanda dia adalah ahli syurga. Dahulu semasa pengkebumian jenazahnya pun semua orang yang hadir mengatakan kuburnya mengeluarkan wangian yang harum. Selepas peristiwa ini, sahabatku berkata selama 2 hari dia tidak dapat tidur malam kerana teringat peristiwa tersebut.

Berbalik kepada kisah wanita ini, sahabat aku bertanya mengapa ia menangis, katanya: “Kakak menangis sebab menyesal dan rasa berdosa sebab dahulu semasa arwah masih hidup dan sihat, kakak selalu marah dan menghalang dia daripada keluar ikut dakwah tabligh, tapi dia keluar juga walaupun kakak marah.”


Allahyarham dahulu semasa hayatnya bekerja dalam satu jabatan kerajaan. Allahyarham di jabatan atau pejabatnya memanglah seorang yang dikenali di semua peringkat, dari ketua atasan sehinggalah pencuci lantai pejabat semua mengenalinya. Dia peramah, suka ketawa dan senyum dan menyapa kepada semua orang. Tetapi masa itu allahyarham masih tidak menumpukan kepada amal-amal agama. Sikapnya mula berubah apabila dia telah mula mengikuti dakwah tabligh 3 hari yang pertama kali. Dia telah mula mendekati dirinya pada Allah dan bertaubat nasuha. Semua perangai lamanya telah dibuang terus dalam hidupnya. Kehidupannya kini mula tenang dan dia telah belajar dan beramal dengan penuh tekun setiap perintah Allah swt mengikut sunnah nabi saw. Dia yakin, inilah satu usaha kenabian yang dapat merubah kehidupan seseorang kepada satu kehidupan beragama yang diredhai oleh Allah swt. Kemudian dia mengambil cuti tanpa gaji dan ikut keluar lagi 40 hari walau pun dalam keadaan isterinya marah dan tidak berapa suka dia keluar khuruj berdakwah. Selepas beberapa tahun berikutnya, dipohon pula cuti tanpa gaji selama 4 bulan dan diluluskan cutinya untuk keluar 4 bulan di India, Pakistan dan Bangladesh.

Setelah pulang dari khuruj 4 bulan, allahyarham telah menerima surat pemberhentian kerja oleh jabatannya dengan alasan yang tidak munasabah. Tetapi allahyarham redha dan pasrah dengan takdir Ilahi, dia tidak mengambil apa-apa tindakan undang-undang untuk membela diri. Allahyarham mencari rezeki, memelihara anak dan isterinya dengan memulakan perniagaan kecil-kecilan, berniaga air minuman dan jual kueh muih ditepi taman rumahnya. Usaha dakwah tidak ditinggalkanya, terus aktif membuat usaha di kampungnya setiap hari bersama sahabat baiknya tadi. Keadaan ini berlalu sehingga beberapa tahun, sehinggalah satu masa ketika allahyarham dan sahabat aku ini sedang minum teh tarik disebuah warung, ia disapa oleh seorang lelaki Cina. “Hai awak sudah jadi ustaz kah sekarang?” Dengan penuh kegembiraaan, allahyarham menyambut lelaki cina ini yang merupakan kawan baiknya dahulu. Mereka saling bertanya khabar dan setelah memberitahu hal yang sebenar bagaimana dia telah dipecat, kawan Cina berkata dia akan mengambil kes ini dan akan membawa ke mahkamah tanpa mengambil apa-apa bayaran upah kepada allahyarham. Kawannya ini dahulu bekerja sepejabat dengannya, tetapi sudah berhenti dan menjadi peguam. Masa itu jugalah kawan cina ini menghulurkan kepadanya duit sebanyak RM2000. Diringkaskan cerita, kesnya yang dibawa ke mahkamah telah dimenangi oleh allahyarham.Beliau telah mendapat bayaran balik beratus ribu ringgit oleh kerajaan dan kerja/ jawatannya pula disambungkan semula. Dengan wang tersebut, allahyarham telah mendaftar untuk mengerjakan fardhu haji bersama isterinya. Selang beberapa lama, Tabung Haji telah mengeluarkan surat yang mereka berdua akan berangkat ke Mekah pada tahun itu juga.

Kita merancang, Allah juga yang menentukan semuanya dan ketetapan Allah pasti akan berlaku sebagaimana kehendakNya. Sebelum berangkat ke Tanah Suci Mekah, allayarham telah diserang penyakit barah hati dan meninggal dunia. Semoga Allah mencucuri rahmatnya kepada allahyarham dan meletakkan dia bersama para syuhada dan solihin, amiin.

Kita yang hidup ini, masih belum tahu nasib kita bagaimana. Adakah akhir kalam kita dalam keadaan husnul khotimah? Oleh itu, marilah kita terus berusaha untuk memperbaiki diri dan menguatkan iman dan amal kita mengikut perintah Allah swt dengan cara ditunjuki oleh Nabi saw. ❞


Karguzari bersumber daripada Hj.Musa di caponenkolakedah.blogspot.com. Semoga kita dapat mengambil iktibar. Wallahu a'lam.


Karguzari yang masih tersemat dalam ingatan, adalah berkenaan salah seorang jemaah 4 bulan tempatan yang meninggal dunia di moharlah, matinya dalam keadaan posisi tidur sunnah, tasbih ditangan dan setelah allahyarham berqiamullail. Akan berkongsi karguzari ini di kemudian hari, Insya'Allah.

Selasa, 07 Juni 2011

Kenapa Menengadahkan Tangan ke Langit Saat Berdoa?

Salah satu ulama Al Azhar, Al Muhaddits Syeikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi (1380 H) telah menyebutkan alasan kenapa disyariatkan menengadahkan tangan ke langit saat berdoa. Dalam beliau, Al Manhu Al Mathlubah fi Istihbabi Raf’i Al Yadaini fi Ad Du’a` ba’da As Shalawati Al Maktubah (hal.61), beliau mengatakan,”Jika ada yang mengatakan,’kalau Allah Ta’ala terbebas dari arah, lantas kenapa menengadahkan tangan ke langit saat berdoa?’”

Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban Imam At Thurthusi (529 H), ulama Malikiyah dari Iskandariyah, yang termaktub dalam Ithaf As Sadah Al Muttaqin, syarah Ihya Ulum Ad Din (5/34,35). Dalam jawaban itu, At Thurthusi memberikan dua jawaban:
Pertama: Hal itu berkenaan dengan masalah ubudiyah, seperti menghadap kiblat saat melaksanakan shalat, dan meletakkan kening ke bumi saat sujud, yang juga mensucikan Allah dari tempat, baik itu Ka’bah maupun tempat sujud. Sehingga, seakan-akan langit merupakan kiblat saat berdoa.
Kedua : Karena langit adalah tempat turunnya rizki, rahmat dan keberkahan, sebagaimana hujan turun dari langit ke bumi. Demikian pula, langit merupakan tempat para malaikat, dimana Allah memutuskan maka perintah itu tertuju kepada mereka, hingga mereka menurunkannya ke penduduk bumi. Ringkasnya, langit adalah tempat pelaksanaan keputusan, maka doa ditujukan ke langit.
Jawaban At Thurtusi di atas sejatinya merujuk kepada jawaban Al Qadhi Ibnu Qurai’ah (367 H), saat ditanya oleh Al Wazir Al Muhallabi (352 H), seorang menteri Baghdad yang amat dekat dengan para ulama. Dimana suatu saat Al Muhallabi menanyakan,“Saya melihatmu menengadahkan tangan ke langit dan merendahkan kening ke bumi, di mana sebenarnya Dia (Allah Ta’ala)?
Ibnu Qurai’ah menjawab,”Sesungguhnya kami menengadahkan tangan ke tempat-tempat turunnya rizki. Dan merendahkan kening-kening kami ke tempat berakhirnya jasad-jasad kami. Yang pertama untuk meminta rizki, yang ke dua untuk menghindari keburukan tempat kematian. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala (yang maknanya),”Dan di langit rizki kalian dan apa-apa yang dijanjikan.” (Ad Dzariayat: 22). Dan Allah Ta’ala berfirman (yang maknya),”Darinya Kami ciptakan kalian, dan padanya Kami kembalikan kalian.” (Thaha: 55).
_______________________
Dinukil dari Al Manhu Al Mathlubah fi Istihbabi Raf’i Al Yadaini fi Ad Du’a` ba’da As Shalawati Al Maktubah, Maktab Al Mathbu’at Al Islamiyah, cet 2 (2004) dengan tahqiq Syeikh Al Muhaddits Abdu Al Fattah Abu Ghuddah.

Adab Ulama Menghormati Guru

10. Jika mereka ingin menjumpai guru di luar daripada waktunya mengajar sedangkan di waktu itu guru tersebut sedang bersembahyang, berzikir, menulis atau membaca lalu dia terhenti (terganggu) ketika terlihat mereka atau tidak menegur mereka, maka mereka akan memberi salam kemudian cepat-cepat pergi dari sana kecuali jika disuruh oleh guru itu untuk menunggu di sana.

11. Mereka tidak meminta daripada guru untuk mengajar di waktu yang menyukarkan baginya atau jika difikirkan akan menyusahkannya ataupun bukan waktu yang biasa bagi guru tersebut untuk mengajar. Begitu juga pada ketika guru itu sedang letih, bosan, dukacita, mengantuk dan sebagainya kerana ini akan menyusahkannya dan menjadi penghalang kepadanya daripada melaksanakan pengajarannya dengan sempurna.

12. Apabila mereka duduk di hadapan guru ketika belajar, mereka duduk dengan penuh tawadhu‘, khusyu‘ dan tenang. Memandang guru ketika dia bercakap dengan penuh perhatian dan memikirkan secara mendalam akan kata-katanya dan tidak memandang ke arah lain tanpa keperluan, begitu juga tidak bermain-main dengan tangan, kaki atau anggota-anggota yang lain ataupun bermain-main dengan pen, pakaian serta lain-lain perbuatan yang boleh mengganggu konsentrasi mereka terhadap guru.

Sesungguhnya ulama-ulama salaf sangat memuliakan majlis-majlis ilmu. Mereka duduk diam dengan penuh rasa hormat dan takzim terhadap guru mereka dan tidak akan bercakap kecuali ketika menjawab soalan guru mereka sehingga diumpamakan duduk mereka ketika belajar itu seolah-olah ada burung di atas kepala mereka. Perumpamaan ini bermaksud mereka duduk diam tanpa bergerak-gerak kerana burung pada kebiasaannya tidak akan hinggap kecuali di atas sesuatu yang tidak bergerak-gerak.

Mereka juga tidak menyandarkan tangan mahupun badan pada dinding dan seumpamanya ketika kehadiran guru dan tidak sekali-kali membelakanginya. Mereka juga mengurangkan percakapan tanpa keperluan dan tidak ketawa terbahak-bahak ketika kehadiran guru.


13. Mereka sentiasa menjaga sopan santun ketika bercakap dengan guru dan tidak menggunakan bahasa-bahasa yang boleh menyinggung perasaannya dan tidak memutus percakapannya apatah lagi di waktu ketikanya sedang mengajar kecuali jika disuruh atau diizinkan untuk bercakap oleh guru tersebut.

14. Mereka tidak malu untuk bertanya jika ada kemusykilan mengenai sesuatu yang diajarkan oleh guru dan apabila bertanya mereka akan menjelaskan persoalan mereka itu dengan terang dan jelas.

Imam Abu Hanifah sering menyerukan untuk menuntut ilmu tanpa rasa segan dan malu, dan dalam hal ini hendaklah dia mengajukan pertanyaan-pertanyaannya dengan cara yang baik. Beliau berkata:
Bertanya dengan baik adalah separuh dari ilmu.


Jika ditanyakan oleh guru "adakah kamu faham"?, maka mereka tidak sekali-kali akan berkata "ya" kecuali jika benar-benar jelas maksud apa yang diajarkannya itu supaya mereka dapat memahami dengan lebih jelas dan sempurna dan tidak dikira berdusta kepada guru.

Mereka tidak sekali-kali malu untuk berkata "aku belum faham" kerana dengan perkataan ini dia akan beroleh berbagai bentuk kebaikan yang akan diperolehi sama ada pada waktu tersebut mahupun untuk masa depannya.
15. Jika guru mereka berlaku kasar ataupun marah, maka merekalah yang akan terlebih dahulu meminta maaf dengan menunjukkan bahawa merekalah yang patut dipersalahkan. Ini akan memberikan manfaat yang lebih bagi mereka sebagai pelajar di dunia dan akhirat serta ini akan lebih membersih dan menyenangkan hati guru.

16. Mereka sentiasa mendoakan kesejahteraan guru sama ada semasa hayatnya atau sesudah matinya atas jasa serta segala pengorbanan yang telah dicurahkannya kerana jasa-jasa pewaris para nabi yang tidak ternilai ini tidak akan dapat dibalas.

Pengarang kitab Al-Fawaid Al-Makiyyah iaitu As-Sayyid ‘Alawi berkata:
Antara adab pelajar itu ialah tidak lupa mendoakannya setiap masa sepertimana dia tidak lupa untuk mendoakan ibu bapanya dan berbuat baik kepadanya sepertimana dia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya.


Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Aku tidak pernah lupa mendoakan Imam Asy-Syafi‘e ketika bersembahyang semenjak empat puluh tahun lalu. Kerana banyaknya doa Imam Ahmad bin Hanbal untuk Imam Asy-Syafi‘e ini, anaknya bertanya kepadanya: Siapakah dia Asy-Syafi‘e ini sehingga engkau pohonkan segala doa-doa ini untuknya!? Imam Ahmad pun menjawab: Anakku, Imam Asy-Syafi‘e umpama matahari bagi dunia ini dan merupakan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.


Pengajaran Daripada Adab Nabi Musa ‘Alaihissalam Terhadap Gurunya

Al-Qur‘an menceritakan bagaimana tingginya peradaban dan akhlak Nabi Musa ‘alaihissalam ketika Baginda ingin menuntut ilmu daripada seorang hamba Allah yang dikurniakan ilmu yang tinggi (menurut kebanyakan riwayat, hamba Allah yang dimaksudkan itu ialah Nabi Khidir ‘alaihissalam) dalam firman Allah Ta‘ala dalam Surah al-Kahfi ayat 66:

Tafsirnya:
“Nabi Musa ‘alaihissalam berkata kepadanya (Nabi Khidir ‘alaihissalam): "Bolehkan aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah), ilmu yang menjadi pertunjuk bagiku?”

(Surah Al-Kahfi: 66)



Mengikut Imam Fakhrur Razi, ayat ini mengandungi adab serta tatacara yang banyak dan halus bagi seorang pelajar ke atas gurunya, antaranya:


1. Menjadikan dirinya sebagai pengikut Nabi Khidir ‘alaihissalam kerana Baginda mengatakan "bolehkah aku mengikutimu"?.

2. Meminta kebenaran untuk mengikutinya dengan meminta izin terlebih dahulu dengan katanya "bolehkan aku mengikutimu"? dan bukannya berkata dengan kata-kata yang menunjukkan pembebanan ke atas Nabi Khidir ‘alaihissalam seperti kata-kata "aku ingin mengikutimu". Ini kerana dengan kalimat yang diucapkan Baginda itu, tiada pihak yang merasa dibebani oleh yang lain. Bahkan, sang muridlah yang harus mengerti kedudukan guru sebagai orang yang patut dihargai.

3. Baginda berkata "supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar" yang menunjukkan pengakuan kejahilan Baginda di hadapan gurunya.

4. Baginda berkata "di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu" dengan menggunakan perkataan "di antara" yang membawa maksud “sebahagian” yang menunjukkan permintaan Nabi Musa ‘alaihissalam agar Nabi Khidir ‘alaihissalam mengajarinya sebahagian daripada ilmu yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ini juga mengisyaratkan rasa rendah diri yang seolah-olah Baginda mengatakan, "saya tidak meminta agar kamu mengajariku semua ilmumu, akan tetapi sebahagian dari ilmumu". Seperti juga halnya seorang fakir yang meminta sedikit dari harta sikaya.

5. Kata-kata Baginda "ilmu yang telah diajarkan kepadamu" merupakan pengakuan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta‘alalah yang mengajari ilmu itu.

6. Kata Baginda "ilmu yang menjadi pertunjuk bagiku" seolah-olah Baginda mengharap petunjuk daripada ilmu Nabi Khidir ‘alaihissalam kerana tanpa irsyad serta petunjuk maka akan terjerumuslah ke lembah kesesatan.

7. Sabda Baginda "ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)" menunjukkan bahawa Baginda meminta Nabi Khidir ‘alaihissalam memperlakukan Baginda seperimana Nabi Khidir ‘alaihissalam diperlakukan oleh Allah Ta’ala. Di dalamnya ada isyarat agar dirinya diberi nikmat sebagaimana Nabi Khidir ‘alaihissalam diberi nikmat ilmu oleh Allah. Untuk itu ada pepatah mengatakan, "saya adalah hamba bagi siapa saja yang mengajariku satu huruf".

8. "Mengikuti" menunjukkan sikap menurut dan mencontohi guru tanpa membantah, ini membawa erti bahawa seorang pelajar itu harus mengikuti gurunya hanya kerana guru tersebut berbuat demikian. Ini juga menunjukkan bahawa seorang pelajar harus menyerahkan dirinya terhadap irsyad seseorang guru tanpa membantah sedikitpun.

9. Dalam satu riwayat, Nabi Khidir ‘alaihissalam telah diberitahukan bahawa Nabi Musa ‘alaihissalam adalah Nabi Bani Israel yang diturunkan kepadanya kitab Taurat dan yang pernah berkata-kata secara langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dengan kemuliaannya ini, Baginda meminta agar Nabi Khidir ‘alaihissalam untuk mengajarnya. Ini menunjukkan bahawa Nabi Musa ‘alaihissalam benar-benar mempunyai keperibadian yang luhur serta tawadhu‘. Hal ini sangat sesuai dengan dirinya yang mempunyai banyak ilmu pengetahuan sehingga dengan ilmunya itu dia mengerti tatacara yang tinggi dan halus dalam menghormati ahli ilmu.



Penutup

Guru adalah ibu, bapa, pengajar, pendidik, pengasuh, pendek kata guru adalah segalanya bagi seorang pelajar. Segala kesusahan yang ditempuhinya dalam mendidik anak-anak muridnya sepatutnya dihargai kerana tanpa jerih payah seorang guru itu, pelajarnya akan menjadi manusia yang tidak berguna di dunia dan akhirat. Sewajarnyalah setiap pelajar mencontohi para ulama salaf dalam menjaga tingkah laku, sopan santun serta akhlak terhadap guru, tidak kira siapapun gurunya itu, sungguhpun lebih muda ataupun lebih rendah darjat daripadanya. Ini kerana dengan ilmulah manusia diangkat menjadi makhluk termulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala sehingga dijadikan sebagai khalifah-Nya di muka bumi, semua ini tidak akan tercapai kecuali dengan menjaga peradaban dan rasa hormat yang ikhlas terhadap penyampai ilmu tersebut iaitu guru, pewaris para nabi.

Adab Ulama Menghormati Guru





Sesuai dengan ketinggian darjat dan martabat guru itu, maka tidak hairanlah bahawa para ulama sangat menghormati guru mereka. Di antara cara mereka memperlihatkan penghormatan mereka terhadap guru ialah:



1. Mereka merendah diri terhadap ilmu dan guru dan sentiasa menurut perintah serta nasihat guru dan sentiasa meminta pendapat serta pandangan guru dalam setiap urusan mereka.

Mereka mentaati setiap arahan serta bimbingan guru umpama seorang pesakit yang tidak tahu apa-apa yang hanya mengikut arahan seorang doktor pakar yang mahir.

Mereka juga sentiasa berkhidmat untuk guru-guru mereka dengan mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan khidmat tersebut.



2. Mereka memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan takzim serta mempercayai kesempurnaan keahlian dan kepakarannya dalam bidang perguruannya. Ini lebih membantu mereka sebagai pelajar untuk memperolehi manfaat daripada guru mereka dan akan mengukuhkan lagi apa yang didengar dan diajarkan oleh guru.
Ulama-ulama salaf sangat memuliakan dan menggagungkan guru-guru mereka. Ini jelas termaktub dalam kisah-kisah tentang akhlak mereka dalam majlis-majlis ilmu dan kesopanan mereka terhadap guru-guru mereka. Sebagai contoh:

- Mughirah berkata:
Kami menghormati Ibrahim an-Nakha‘ie sepertimana kami menghormati raja.


- Imam Asy-Syafi‘e pula berkata:
Aku membelek kertas di hadapan Imam Malik perlahan-lahan kerana menghormatinya supaya dia tidak terdengar (bunyi belekan kertas tersebut).


- Rabie‘ berkata:
Demi Allah aku tidak berani meminum air sedangkan Imam Asy-Syafi‘e memandang kepadaku.


- Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata: Antara hak seorang alim ke atasmu ialah memberi salam ke atas orang ramai secara umum dan mengkhususkan gurumu dengan penghormatan yang khusus dan istimewa.



3. Mereka sentiasa mendampingi guru supaya mendapat berkat serta beroleh ilmu yang akan tercurah daripadanya pada bila-bila masa serta menjadikannya qudwah (ikutan).

Imam Asy-Syafi‘e misalnya, sejak pertemuannya dengan gurunya iaitu Imam Malik pada tahun 170 Hijrah, hampir tidak pernah meninggalkan gurunya sehingga gurunya itu wafat pada tahun 179 Hijrah. Ini kerana Imam Asy-Syafi‘e tidak pernah meninggalkannya kecuali ketika pergi ke Makkah untuk menjenguk ibunya ataupun pergi ke pusat ilmu dan feqh. Itu pun setelah beroleh keizinan serta restu daripada gurunya. Jika direstui, Imam Malik akan menyiapkan bekal dan memberikannya wang perbelanjaan sambil mendoakan keselamatannya.



4. Mereka tidak menggunakan ganti nama diri seperti "engkau" dan "awak" dan tidak memanggil atau meneriaki guru dari jauh.


Al-Khatib berkata: Hendaklah dia berkata
"Wahai guru, apakah pendapat kamu mengenai hal ini?" dan kata-kata seumpamanya. Dan tidak menggelarkannya dengan namanya kecuali disertakan dengan gelaran-gelaran yang menunjukkan penghormatan serta takzim kepadanya. Misalnya syeikh ataupun ustaz atau syeikh kami.


Maksudnya di sini, mereka memanggil guru dengan gelaran yang penuh adab serta penghormatan. Jika nama guru tersebut Muhammad misalnya, maka mereka akan memanggilnya dengan nama ustaz, cikgu, guru kami dan sebagainya dan tidak menyebutkan namanya kecuali disertakan dengan gelaran yang penuh penghormatan seperti Ustaz Muhammad, Cikgu Muhammad dan sebagainya meskipun sewaktu ketiadaan guru itu.



5. Mereka tidak sekali-kali berbantah-bantah ataupun berlawan cakap dengan guru. Sesungguhnya berbantah-bantah itu secara umumnya sudah merupakan suatu perbuatan yang keji, apatah lagi untuk berbantah-bantah dengan guru yang merupakan pembimbing serta qudwah! Perbuatan ini akan menjauhkan mereka sebagai pelajar daripada kebaikan dan merupakan penjerumus kepada kejahatan dan ianya adalah penyebab diharamkan ke atas mereka bermacam-macam bentuk kebaikan.

Sesungguhnya, menuntut ilmu itu adalah satu bentuk ibadah dan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, bukannya untuk bermegah-megah ataupun untuk berbantah-bantah dengan ilmu tersebut.

Dalam satu hadits riwayat Imam Al-Hakim, Ka‘ab bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya:
“Barangsiapa mencari ilmu untuk menyaingi para ulama atau untuk bertengkar dengan orang-orang bodoh atau supaya hati manusia menghadap kepadanya maka ia akan masuk neraka.”

(Hadits riwayat Al-Hakim)



6. Mereka berterima kasih kepada guru atas segala tunjuk ajar serta bimbingannya terhadap segala kebajikan dan tegahan serta tegurannya ke atas segala kekurangan atau kemalasan dan sebagainya bagi memperbaiki diri dan mengganggap teguran, asuhan, didikan serta keprihatinan guru itu sebagai rahmat dan kurniaan yang tak terhingga kepada mereka oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Jika bimbingan serta teguran yang diberikan oleh guru itu sudah diketahui, maka mereka tidak menunjukkan yang mereka sebenarnya sudah mengetahuinya, bahkan mereka menghargai dan berterima kasih atas bimbingan serta keprihatinan guru tersebut terhadap mereka.



7. Jika mereka berhajat kepada guru mereka di luar waktu mengajar sedangkan guru tersebut sedang berehat ataupun tidur, maka guru itu tidak akan diganggu. Mereka akan menunggu sehingga guru tersebut terjaga dari tidur ataupun selesai dari berehat.
Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma pernah mendatangi salah seorang daripada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya kepadanya mengenai suatu hadits. Lalu dikatakan kepadanya:
Dia sedang tidur. Maka duduklah Ibnu ‘Abbas di muka pintu. Lalu dikatakan kepadanya: Tidak perlukah kita mengejutkannya? Ibnu ‘Abbas pun menjawab: Jangan.



8. Mereka tidak mendatangi guru di luar daripada majlis ilmu yang umum (di luar dari jadual waktunya untuk mengajar dan sebagainya) kecuali dengan izinnya, sama ada guru mereka itu sedang bersendirian mahupun sedang bersama dengan orang lain.

Jika tidak ada izin daripada guru itu sedangkan guru itu mengetahui bahawa mereka sedang meminta izin untuk mendatanginya, maka mereka akan beredar dan tidak mengulangi isti’zan (permohonan izin) mereka.


Jika mereka ragu-ragu adakah guru tersebut terdengar ataupun tahu akan isti’zan mereka untuk mendatangi guru tersebut ataupun tidak, maka dalam hal ini mereka akan mengulang isti’zan tersebut tidak melebihi dari tiga kali ketukan di pintu. Mereka mengetuk dengan penuh adab dan perlahan-lahan dengan menggunakan kuku jari.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad bahawa Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu telah berkata:

Maksudnya:
“Pintu-pintu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diketuk dengan menggunakan kuku-kuku jari.”


(Hadits riwayat Al-Bukhari)

Jika guru mereka itu jauh daripada pintu, maka tidaklah menjadi kesalahan daripada segi adab mereka untuk menguatkan sedikit ketukan dalam kadar kira-kira dapat didengar oleh guru tersebut dan jangan sampai melebihi daripada kadar ini.

Jika guru tersebut bertanya siapakah yang berada di luar pintu itu, maka mereka tidak hanya mengatakan "aku" tanpa menyebutkan nama kerana ini tidak disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam shahih Imam Al-Bukhari diriwayatkan bahawa Jabir Radhiallahu anhu’ telah berkata:

Maksudnya:
“Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membayar hutang bapaku lalu aku mengetuk pintu. Lalu Baginda bertanya "Siapa ini?” Kemudian aku menjawab "aku" . Baginda pun bersabda: "Aku! Aku! Seolah-olah Baginda tidak menyukainya.”


(Hadits riwayat Al-Bukhari)

Seandainya pintu bilik guru itu terbuka, maka mereka tidak akan mengintip atau menghadapkan muka mereka ke muka pintu, tapi mereka menjadikan muka pintu itu berada di sisi kanan atau kiri mereka atau dalam bahasa Brunei disebutkan menyiring, kemudian barulah mereka memberi salam.

Ini kerana antara adab isti’zan itu ialah meminta izin untuk melihat. Sahl bin Sa‘ad Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan:

Maksudnya:
“Seorang lelaki mengintip dari lubang kamar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah sisir yang digunakannya untuk menyisir rambutnya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika aku tahu yang engkau mengintip nescaya akan aku tusukkan sisir ini ke matamu! Sesungguhnya isti’zan (permohonan izin) itu disyariatkan untuk keperluan melihat. ”


(Hadits riwayat Al-Bukhari)

9. Apabila mereka hendak berjumpa dengan guru, mereka akan memastikan diri mereka dalam keadaan yang sempurna dengan tubuh badan dan pakaian yang bersih, memotong kuku serta menghilangkan bau-bauan yang kurang enak sama ada ketika menemuinya secara persendirian apatah lagi ketika hendak menghadiri majlis ilmu yang umum seperti kelas dan sebagainya yang merupakan sejenis perkumpulan ibadah kerana dikhuatiri akan mengganggu kesejahteraan guru mahupun rakan-rakan pelajar yang lain.



Imam Malik sepanjang hidupnya, membiasakan mandi dengan baik dan teratur, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian terbaik setiap kali ia menghadiri halaqah untuk belajar ataupun mengajar.

Mereka juga pada ketika itu akan mengosongkan hati daripada segala urusan di samping mensucikan minda serta fikiran, pendek kata sempurna jiwa dan raga untuk menerima pengajaran guru. Bukannya dalam keadaan mengantuk atau marah atau lapar yang bersangatan ataupun dalam keadaan dahaga dan sebagainya supaya dada mereka dilapangkan untuk menerima pengajaran yang diberikan dan mampu mengingati apa yang telah guru perdengarkan kepada mereka.

Ketika sedang belajar, mereka sentiasa menunjukkan adab terhadap kawan-kawan sekelas dan sesiapa sahaja yang menghadiri majlis ilmu atau kelas guru mereka itu. Hal ini merupakan sikap sopan terhadap guru dan pemeliharaan terhadap majlis ilmu ataupun kelasnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...