SAHABAT MADRASAH

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Biodata Imam Al-Ghazali

Sejarah Hidup Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.
Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).
Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).
Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.
Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

Rabu, 21 Desember 2011

Manaqib Al Habib Zein Bin Ibrahim Bin Semaith


Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-Murabbi al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith حفظه الله ومتعنا الله بطول حياته : Faqihnya Umat Ini Yang Tabahhur Ilmunya




  Sempena kunjungan Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-’Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith حفظه الله ومتعنا الله بطول حياته maka inginlah al-Fagir mengambil kesempatan untuk memperkenalkan secara ringkas ulama ahlulbait yang terkenal. Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-’Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith حفظه الله ومتعنا الله بطول حياته adalah antara permata habaib zaman ini. Beliau seorang yang terkenal khumul, yang tidak sukakan kemasyhuran dan tinggi sebutan. Faqihnya umat ini yang tabahhur ilmunya.

     Nama dan nasab beliau: Beliau adalah al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-’Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim bin Zein bin Muhammad bin Zein bin ‘Abdur Rahman bin Ahmad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Ali bin Saalim bin `Abdillah bin Muhammad Sumaith bin ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin Ahmad bin ‘Alwi bin Ahmad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Alwi (‘Ammul Faqih al-Muqaddam) bin Muhammad Shahib al-Mirbath bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah bin ‘Isa ar-Rumi. Bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin asy-Syahid Hussin as-Sibth, putera Sayyidina ‘Ali dan Sayyidatina Fathimah az-Zahra’ bin Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.

Kelahiran dan pendidikan: Beliau dilahirkan pada tahun 1357H (1936M) di Jakarta, Indonesia. Beliau lahir dari keluarga yang sholeh. Ayahanda beliau, al-Habib Ibrahim bin Zein pernah menjadi imam di Masjid Habib ‘Abdullah bin Muhsin di Bogor ketika di akhir umur beliau. Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith mendapat didikan awal agamanya oleh ayahandanya sendiri dan juga dengan para ulama dan pemuka habaib di Jawa. Sedari kecil beliau telah dibawa oleh ayahandanya untuk hadir ke halaqah ilmu, rohah dan mawlid yang dianjurkan oleh Habib ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad di Bogor yang merupakan naqib para saadah di Tanah Jawa. Habib ‘Alwi ini adalah seorang ulama dan waliyUllah yang terkemuka pada masanya. Beliau wafat pada tahun 1373H dan dimakamkan di Empang, Bogor di mana hingga saat ini makamnya diziarahi dan terkenal sebagai Keramat Empang Bogor. Beliau inilah di antara guru awal Habib Zein. Selain itu, Habib Zein juga sering dibawa ayahandanya untuk meneguk ilmu dan hikmah di majlis seorang lagi ulama dan waliyUllah iaitu Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang).
Guru-guru Habib Zein
Guru-guru di Tarim: Dalam tahun 1371H (1950M), ketika usianya lebih kurang 14 tahun, Habib Zein telah dibawa oleh ayahandanya ke Tarim al-Ghanna, tempat asal keturunannya. Di sana, Habib Zein tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan. beliau berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya beliau belajar di rubath Tarim

Di antara guru-guru beliau di Tarim adalah:-

Al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Saalim Bin Hafidz – dengan guru beliau ini, al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith belajar dan menghafal kitab Sofwah az-Zubad karya Imam Ibn Ruslan, kitab al-Irsyad karya Ibn Muqri (sehingga bab Jinayat) dan Nadzam Hadiyyah ash-Shaadiq karya al-Habib ‘Abdullah bin Hussin bin Thohir. Selain itu beliau belajar kitab-kitab karangan al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dalam ilmu faraidh dan munakahat, sebahagian dari kitab Minhaj, kitab-kitab tasawwuf dan ilmu falak;
Habib ‘Umar bin ‘Alwi al-Kaaf – beliau belajar ilmu Nahwu, Ma’ani dan Bayan. Dengan guru beliau ini juga beliau mempelajari kitab Mutammimah al-Ajrumiyyah dan Alfiyyah serta syarah-syarahnya. Beliau juga menghafal matan Alfiyyah;
Habib ‘Alwi bin ‘Abdullah Bin Syihaabuddin – beliau mengikuti majlis-majlis pengajian al-Habib ‘Alwi di Rubath Tarim, juga mengikuti rohah yang diadakan di kediamannya dan majelis Syeikh ‘Ali bin Abu Bakar as-Sakran;
Habib Ja’far bin Ahmad al-’Aydrus – beliau sering berulang-alik ke tempatnya dan beliau memperolehi banyak ijazah daripadanya;
Habib Ibrahim bin ‘Umar bin ‘Aqil;
Habib Abu Bakar ‘Atthas bin ‘Abdullah al-Habsyi – beliau membaca kitab al-Arbain al-Ushul karya Imam al-Ghazali;
Habib Salim bin ‘Alwi al-Khird – beliau membaca kitab Mulhaq al-‘Irab karya Abu Muhammad al-Qaasim bin ‘Ali al-Hariri al-Bashri;
Habib ‘Abdur Rahman bin Haamid as-Sariy – beliau mempelajari ilmu ushul, mempelajari matan Waraqat;
‘Allaamah Syaikh Mahfuz bin Saalim az-Zubaidi – beliau mempelajari ilmu fiqih;
Syaikh Saalim bin Sa`id Bukayyir BaGhitsaan al-Mufti – beliau belajar fiqih;
Syaikh Fadhl bin Muhammad BaFadhl – beliau mempelajari ilmu ushul, mempelajari matan Waraqat;

Berangkat ke Baidho’: Setelah kira-kira 8 tahun menuntut di Tarim, Habib Zein telah disuruh oleh guru beliau Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz untuk pindah ke Kota Baidha` untuk mengajar dan berdakwah di samping meneruskan pengajian dengan para ulama di sana antaranya kepada mufti Baidha`, Habib Muhammad bin ‘Abdullah al-Haddar. Kedatangannya ke Baidha` disambut dengan penuh kegembiraan oleh Habib Muhammad bin ‘Abdullah al-Haddar. Habib Zein telah ditugaskan oleh Habib Muhammad al-Haddar untuk mengajar dan membantu beliau dalam berdakwah. Kagum dengan beliau, akhirnya Habib Muhammad al-Haddar telah menikahkan beliau dengan puterinya. Habib Zein juga diijazahkan pelbagai riwayat oleh Habib Muhammad bin ‘Abdullah al-Haddar.
Habib Zein terus menetap di Baidha` dan meneruskan pengabdiannya terhadap ilmu dan dakwah di mana beliau menjadi tempat rujuk dan mufti. Ketinggian ilmunya diakui oleh para ulama sehingga Habib Muhammad al-Haddar menyatakan bahawa apabila sesuatu permasalahan itu telah dijawab oleh Habib Zein, maka tidaklah perlu untuk membuat rujukan lain.
Ijazah di bidang keilmuan: Selain itu beliau juga mendapat ijazah daripada kalangan Saadah Ba’alawi dan para ulama’ dunia Islam, seperti: Al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Hadi as-Saqqaf, al-‘Allamah al-Habib Ahmad bin Musa al-Habsyi, al-’Allamah al-Muhaddits Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul Aziz al-Maliki al-Makki al-Hasani, al-‘Allamah al-Habib ‘Umar bin Ahmad Bin Sumaith, al-‘Allamah al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha al-Haddad, al-‘Allamah al-Habib ‘Abdul Qaadir bin Ahmad as-Saqqaf, al-‘Allamah al-Habib Hasan bin ‘Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri, asy-Syaikh Umar al-Haddad, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Ahmad asy-Syathiri, al-‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdullah bin Sa’id al-Lahji al-Hadhrami dan Sayyid Yusuf ar-Rifai al-Kuwaiti.
Berhijrah ke Madinah: Setelah kira-kira 21 tahun menetap di Baidho` menyumbang ilmu dan berdakwah, maka pada bulan Ramadhan 1406, Habib Zein telah berhijrah ke kota nenda beliau al-Mustafa r, Madinah al-Munawwarah, untuk menjadi pengasuh Rubath Habib ‘Abdur Rahman bin Hasan al-Jufri. Beliau berganding dengan Habib Salim bin ‘Abdullah bin Umar asy-Syaathiri untuk mengasuh Rubath al-Jufri tersebut. Setelah Habib Salim pulang ke Tarim untuk mengasuh Rubath Tarim, maka tanggungjawab di Rubath al-Jufri dipikul sepenuhnya oleh Habib Zein sehingga kini [menurut khabar yang abu zahrah dengar, rubath tersebut telah diarahkan tutup oleh pemerintah Saudi].
Walaupun beliau sudah mempunyai murid-murid di Madinah, beliau masih mengambil peluang untuk menimba ilmu dari ulama ulama Madinah seperti:-
Syaikh Muhammad Zaidan asy-Syanqiti al-Maliki – beliau mempelajari ilmu ushul, membaca kitab at-Tiryaq an-Nafi’ ‘ala Masail Jam’ul Jawami’ karya al-Imam Abu Bakar bin Syahab dan kitab Maraqi as-Su’ud karya Syarif ‘Abdullah al-‘Alawi asy-Syanqitiy;
al-‘Allamah an-Nihrir Ahmaddu bin Muhammad Hamid al-Hasani asy-Syanqiti – beliau membaca kitab Syarah al-Qathr, sebahagian daripada kitab Ibnu ‘Aqil, Idha’ah al-Dujunnah karya Imam al-Maqqari, as-Sullam al-Munauraq karya al-Akhdhari, Isadguji karya Imam al-Abhari, Itmam ad-Dirayah li Qurra an-Naqayah karya as-Sayuthi, al-Maqsyur wa al-Mamdud dan Lamiyah al-Af’al karya Ibnu Malik, Mughni Labib karya Ibnu Hisyam, Jauhar al-Maknun dan kitab ilmu shorof. Guru beliau ini memuji al-Habib Zein kerana semangat dan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu.
Selain daripada melahirkan ramai murid yang menjadi ulama dan da`ie, beliau juga telah menghasilkan beberapa karya yang hebat, antaranya:-

al-Manhaj as-Sawi syarhu Ushul Thoriiqah as-Saadah Ali Baa’Alawi – karya beliau yang unggul dalam mensyarahkan ushul thariqah aal Ba’Alawi. Pokok utama kitab ini mensyarahkan kata-kata al-Imam al-Muhaqqiq al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi (wafat 1145H, murid dari al-Imam ‘Abdullah al-Haddad) iaitu: “Thariqah Saadah Aal Ba’alawi adalah ilmu, ‘amal, wara`, khauf (takut kepada Allah) dan ikhlas kepadaNya”.
al-Ajwibah al-Ghaliyyah fi ‘Aqidah al-Firqah an-Naajiyyah – kitab ini di dalam bentuk soal-jawab (buku telah al-Fagir dan teman-teman terjemahkan, insyAllah akan berada di pasaran sedikit masa lagi ini). Kitab ini mengulas tentang aqidah ahlussunah wal jamaah, yang berisi tentang jawaban atas amaliyah golongan ahlussunah wal jamaah yang selama ini dianggap oleh sekelompok kecil umat islam (bahasa mudahnya Wahabi) sebagai amalan yang menyimpang dari ajaran Islam, sedangkan amaliyah tersebut telah dilakukan oleh generasi terdahulu, iaitu generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan terus menerus hingga sekarang.
al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah min Anfas as-Sadah al-‘Alawiyyah – kitab ini menghimpunkan tafsir isyari kepada beberapa ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabawi yang beliau himpunkan daripada kalam Saadah ‘Alawiyyin.
al-Futuhat al-‘Aliyyah fi al-Khutbah al-Minbariyyah (5 jilid) – merupakan himpunan khutbah-khutbah beliau.
Hidayah ath-Thalibin fi Bayan Muhimmat ad-Din – kitab ini merupakan syarah kepada hadits Jibril iaitu mengenai pengertian Islam, Iman dan Ihsan.
Hidayah az-Zairin ila Ad’iyyah az-Ziyarah an-Nabawiyyah wa Masyahid ash-Shalihin – merupakan kumpulan doa para salaf (ulama-ulama Saadah ‘Alawiyyin terdahulu) yang diucapkan ketika menziarahi Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dan makam-makam yang terletak di Haramain (Makkah dan Madinah) dan Hadramaut.
an-Nujum az-Zahirah li Saliki Thariqi al-Akhirah – merupakan kumpulan daripada ‘amalan-‘amalan para Saadah Ba’alawi beserta dengan faedahnya.
Kitab Tsabat (Sanad-sanad dan masyaikh beliau) – masih di dalam bentuk manuskrip
dan lain-lain.
Peribadi dan kegiatan harian beliau: Beliau seorang yang sangat ‘alim, faqih dan ‘arifbillah. Menghafal persoalan-persoalan di dalam mazhab Syafie. Oleh kerana itulah ada yang mengelar beliau sebagai syafie shaghir di zaman ini. Ketika di usia mudanya, beliau seorang yang bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu. Guru-guru beliau sering memuji beliau kerana kelebihan beliau berbanding rakan-rakannya, juga kerana adab, suluk dan akhlaq beliau yang baik.

Beliau seorang yang tawadhu. Terkenal khumul yang tidak sukakan kemasyhuran dan tinggi sebutan. Lidahnya sentiasa basah dengan zikruLlah. Tasbih hampir tidak pernah berpisah daripadanya. Sentiasa berserban putih, memakai kain dan rida’ sepertimana kebiasaan para salaf di Hadramaut.
Beliau mempunyai tertib khusus dalam membaca aurad dan adzkar sepanjang siang dan malam disamping menjalankan tugas sebagai pengajar. Sentiasa berqiyamullail dan kemudiannya beliau keluar menunaikan sholat Shubuh di Masjid Nabawi dan duduk beri’tikaf sehingga terbit matahari. Setelah itu pulang ke rubath untuk mengajar. Selepas ‘ashar beliau mengadakan rohah sehingga menjelang maghrib. Setelah maghrib mengajar sehingga ‘Isya. Kemudian beliau bersholat ‘Isya di Masjid Nabawi dan setelahnya menziarahi datuk beliau yang agong iaitu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم . Beliau menziarahi Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم setiap pagi dan petang (malam), sejak beliau bermukim di Madinah. Setelah ‘Isya, beliau mengajar dan mengadakan majlis di pelbagai tempat, mengikut hari-hari yang di jadualkan.
Semoga Allah memelihara dan melanjutkan usia Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith, agar kita dan sekalian umat dapat mengambil manfaat dengan keberadaan beliau di atas muka bumi ini. اللهم آمين. al-Fagir memohon ampun maaf andaikata terdapat kesalahan/kesilapan di dalam nukilan ini. Sekian.

Sabtu, 17 Desember 2011

Syeikh Muhammad Fuad al Maliki

Jejak Ulama.

Hari ini kita berkenalan dengan seorang ‘alim yang bersungguh-sungguh memberikan perhatian kepada ilmu, kitab-kitab turast, sanad dan ijazah. Beliau ialah al-Musnid Syeikh Muhammad Fuad b. Kamaludin al-Maliki al-Azhari Hafizahullah.
Memberikan sumbangan yang amat besar kepada Umat Islam Malaysia. Pernah menerima Anugerah Khas Maal Hijrah Negeri Sembilan 1427 Hijriyyah. Pelopor kepada Yayasan Sofa Negeri Sembilan, Madrasah Husainiah, Madrasah Hasaniah, Pusat Tahfiz al-Quran dan Hadith, Darul Maliki dan penubuhan Universiti al-Azhar (Cawangan Malaysia).
Antara kitab-kitab yang pernah beliau mengajar ialah: Tafsir Jalalain, Tafsir Nur al Ihsan, Al Syifa’ bi Ta’rif Huquq al Mustofa, Al Syamail al Muhammadiah, Al Azkar Imam Nawawi, Nasoih al Diniyyah wa al Wasaya al Imaniyyah, Aqidah al Awam, Aqidah Islam Imam al Ghazali, Safinah al Najah, Hikam Ibni Ataillah, Hikam Abi Madyan, Hikam Ibni Raslan, Minhaj al Abidin, Qatr al Ghaithiyyah, Tanbih al Ghafilin, Munyah al Musolli , Hidayah al Salikin, Tuhfah al Gharaibin dan lain-lain lagi.
Berikut merupakan sebahagian pengenalan terhadap syeikh, sebagaimana yang telah ditulis oleh anak murid iaitu Ust Mujahid b. Abdul Wahab di dalam bukunya yang berjudul: “Syeikh Muhammad Fuad al-Maliki yang ku kenali” :
“..Syeikh Muhammad Fuad al Maliki adalah seorang ulama’ yang begitu menitikberatkan pengajian ilmu secara bersanad dan bertalaqqi kerana ia adalah warisan ulama’ dan salafussoleh yang mulia. Oleh yang demikian, beliau telah mengembara ke merata tempat dan mengorbankan wang yang banyak demi memperolehi sesuatu ilmu serta menghubungkan rantaian sanad yang bersambungan dengan ulama’ seterusnya kepada Rasulullah.
Beliau telah bermusafir ke negara-negara Islam seperti Mesir, Sudan, Syria, Lubnan, Palestin, Emiriah Arab Bersatu, Makkah, Madinah, Turki, Indonesia, Singapura dan lain-lain untuk tujuan itu dan telah mendapat redha dan restu daripada ramai tokoh-tokoh dan jaguh ulama’ Islam dalam bidang ilmu dan dakwah. Daripada merekalah beliau memohon tunjuk ajar, nasihat dan doa agar diberikan taufiq dan kekuatan dalam meneruskan agenda dakwah dan melangsungkan kesinambungannya.
Dari kaca mata beliau, seseorang pendakwah itu haruslah dilengkapi dengan beberapa perkara iaitu ilmu, kecemburuan terhadap agama serta apa yang lebih utama lagi ialah keizinan dan sanad daripada para masyayikh untuk menjalankan usaha dakwah dan tarbiah.
Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga adalah seorang ulama’ yang amat memuliakan para guru dan masyayikhnya. Beliau sentiasa merendahkan diri di hadapan mereka serta sanggup menggadaikan masa, tenaga dan harta demi memenuhi permintaan dan mendamba keredhaan mereka.
Disebabkan sifat sodiq dan amanahnya itu, Allah telah melimpahkan keberkatan ilmu dan futuh terhadapnya serta mencampakkan perasaan kasih ke dalam hati anak-anak murid juga insan-insan yang mendampinginya.
Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga memilik keistimewaan yang tidak dikongsi oleh kebanyakan insan yang lain. Beliau amat dikasihi oleh para gurunya dan perkara ini dibuktikan dengan perhatian khusus yang diberikan oleh para masyayikh terhadapnya. Nikmat ini adalah sebesar-besar nikmat yang tidak dikongsi oleh beliau dengan rakan-rakannya yang lain. Kasih para masyayikhnya yang mendalam ini telah banyak memberikan kekuatan serta memandu kehidupan beliau.
Setiap ulama’ dari serata dunia Islam sama ada yang ditemuinya di luar negara mahupun yang datang menziarahinya di Malaysia, akan menyatakan hasrat mereka untuk mengambil beliau sebagai muridnya. Begitu juga mereka berharap agar anak-anak murid beliau dapat melanjutkan pengajian di madrasah-madrasah yang diasaskan oleh mereka sama ada Makkah, Syria, Yaman dan lain-lain lagi.
Di antara para masyayikh yang telah banyak mencurahkan ilmu, nasihat, sanad dan ijazah kepada beliau ialah:
DARI MESIR
SYEIKH ABDULLAH AL SYURA. Di antara kitab yang dipelajari daripadanya ialah Tuhfah al Murid ‘ala Jauharah al Tauhid, Syarah Ibni ‘Aqil dan Kifayah al Akhyar di rumahnya pada setiap pukul enam pagi.
SYEIKH MAHMUD AL ADAWI, Imam Besar Masjid Syeikhah Sobah di Tanta, Mesir – Iqaz al Himam fi Syarh al Hikam, Qalyubi wa ‘Umairah, al Hawi li al Fatawi, Qatr al Nada wa Bal al Soda dan Syuzur al Zahab di Pejabat Masjid Syeikhah Sobah.
SYEIKH HUSAIN AL DARWISYI– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki belajar kitab Kifayah al Akhyar di Pejabat Fatwa Masjid Sayyid Ahmad al Badawi. Di sinilah, Syeikh Muhammad Fuad al Maliki bergaul dengan ulama’ al Azhar dan mengetahui selok belok mengeluarkan fatwa. Jika Syeikh Husain mempunyai suatu urusan dan tidak dapat mengajar, maka beliau akan menyuruh rakan-rakannya dari kalangan syeikh-syeikh yang lain supaya mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
Beliau amat menyayangi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Setelah selesai belajar, Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menghadiahkan kepadanya sagu hati dan manis-manisan sebagai tanda terima kasih seorang murid. Namun, beliau tidak menerimanya dan mengembalikan semula pemberian tersebut. Beliau hanya menerimanya setelah didesak oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tetapi diserahkannya semula kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan kemudian mengucup dahi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebagai tanda kasihnya.
SYEIKH WAJIHUDDIN AL TURKI. Beliau berasal dari Turki tetapi keluarganya berpindah ke Tonto, Mesir selepas kejatuhan Empayar Uthmaniah. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mempelajari kitab Tuhfah al Murid ’ala Jauharah al Tauhid dengannya di rumah yang disewa oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
SYEIKH MUHAMMAD IBRAHIM AL ASYMAWI. Beliau belajar kitab al Tuhfah al Saniyyah fi Syarh Matan al Ajrumiah dan mempelajari ilmu I’rab di Masjid Sayyid Ahmad al Badawi dan Masjid Syeikhah al Sobah dengannya.
DR. ALI JUMA’AH, Mufti Kerajaan Mesir – Sohih Muslim dan Jam’u al Jawami’ di Masjid al Azhar.
SYEIKH ABDUL GHANI IBN SOLEH AL JA’FARI. Beliau mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Tariqat al Ja’fariah al Ahmadiah al Muhammadiah dan sanad ayahandanya, Imam Besar Masjid al Azhar, Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari. Beliau juga telah menghadiahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tasbih, sajadah dan kopiah ayahandanya, Syeikh Soleh al Ja’fari.
DR. JUDAH AL MAHDI AL HUSAINI. Beliau merupakan Naib Rektor al Azhar. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki belajar daripadanya secebis daripada Tafsir Fakhruddin al Razi dan ilmu Tasawwuf. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga telah diijazahkan dengan sanad-sanad ilmu dan mengambil ba’iah Tariqat al Naqsyabandiah daripadanya.
SYEIKH ABDUL SALAM ABU AL FADHL AL HASANI– Beliau telah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki zikir Tariqat al Syazuliyyah dan Hizib al Bahr.
Beliau merupakan seorang auliya’ Allah yang hebat dan mempunyai kasyaf yang tajam pada ketika itu. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menceritakan, semasa pergi mengerjakan solat Jumaat bersama rakan-rakannya, salah seorang daripada mereka tidak mengerjakan solat Subuh. Dengan ketajaman kasyaf yang dimilikinya, beliau tiba-tiba memotong tajuk asal khutbahnya dan masuk kepada tajuk Kepentingan Solat Subuh.
DR. AHMAD UMAR HASYIM, Mantan Rektor al Azhar. Beliau telah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tiga buah hadith berkaitan rahmah dan belas kasihan.
Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad sanad-sanad ilmu yang beliau terima daripada Syeikh Muhammad Yasiin ibn Isa al Fadani, Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki, Imam al Akbar Dr. Abdul Halim Mahmud dan lain-lain. Beliau juga tidak ketinggalan mengijazahkan Syeikh Muhamad Fuad al Maliki segala kitab karangannya terutama syarah Sahih al Bukhari yang bertajuk Faidh al Bari sebanyak 15 jilid.
AL MUHADDITH DR. MAHMUD SA’ID MAMDUH, Penyelidik di Pusat Penyelidikan Islam Dubai. Beliau telah menulis ijazah untuk Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan telah memunawalahkan kitabnya yang bertajuk al Ta’rif sebanyak 6 jilid, al Bayan yang mensyarahkan al Muhazzab karangan Imam al Syairazi dan kitab-kitab lain. Beliau juga telah menasihati Syeikh Muhammad Fuad al Maliki supaya menguasai bahasa Arab dengan sedalam-dalamnya.
SAYYID MUSTAFA IBN AHMAD AL SYARIF AL HASANI. Beliau ialah Syeikh Tariqat al Ahmadiah al Idrisiyyah di Mesir. Menetap di Darau Aswan, Selatan Mesir. Penduduk di sana memanggil beliau dengan gelaran Abu Hasyim yang bermaksud ayah yang suka menjamu makanan kerana beliau bersifat sangat pemurah kepada faqir miskin dan sentiasa membantu kehidupan mereka. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan Khirqah Sufi, dengan sanadnya daripada ayahandanya Sayyid Ahmad al Syariif, daripada Sayyid Muhammad al Syariif, daripada Sayyid Abdul ‘Ali daripada Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani. Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala karangan murid-murid Sayyid Ahmad ibn Idris terutamanya karya-karya Sayyid Uthman al Mirghani.
SAYYID MA’MUN IBN SAYYID ABDUL QADIR AL HASANI. Beliau ialah Syeikh Tariqat al Ahmadiah di Kaherah dan beliau sentiasa mengadakan majlis Hadharah di Masjid Sayyiduna Husain.
SAYYID IDRIS IBN SAYYID MUSTAFA AL HASANI. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Khirqah Sufi dan menggelarkannya dengan al Ahmadi.
SAYYID IDRIS IBN ABDUL RAHIM AL IDRISI, Khadam Masjid Sayyid Ahmad di Zainiyyah, Luxor, iaitu tempat Sayyid Ahmad ibn Idris pernah menerima Tahlil Khusus daripada Rasulullah.
AL MUHADDITH SYEIKH MUHAMMAD IBN IBRAHIM AL KATTANI. Beliau merupakan seorang muhaddith di negara Mesir. Dr. Umar Abdullah Kamil berkata mengenainya, “Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sealim beliau di dunia ini. Kebanyakan kandungan syarahannya tidak terdapat di dalam kitab-kitab kerana ilmunya diambil terus daripada Allah.” Beliau pernah menyatakan, bahawa beliau menjadi sedemikian setelah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memberikannya kitab karangan Syeikh Yusuf ibn Ismail al Nabhani yang bertajuk Hujjah Allah ‘ala al ‘Alamin. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Semoga Allah membuka ke atas kamu segala sesuatu.”
Beliau mempunyai ramai guru; di antaranya ialah ayahandanya sendiri, Syeikh Ibrahim ibn Abdul Ba’ith. Beliau mengambil Tariqat al Syazuliyyah daripada ayahandanya ini. Di antara gurunya yang lain ialah Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari, Imam Masjid al Azhar. Daripada Syeikh Soleh beliau mengambil Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah. Beliau pernah menceritakan pengalaman dengan gurunya ini kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan menyatakan bahawa beliau pernah pergi ke majlis pengajian Syeikh Soleh untuk meminta ijazah Hizib al Saifi. Namun, beliau merasa rendah diri untuk memintanya. Tetapi, tiba-tiba Syeikh Soleh berkata kepada ahli majlis pengajiannya bahawa Hizib Saifi ini telah diijazahkan kepada semua keturunan Sayyiduna Ali t. Dengan perkataan Syeikh Soleh itu, bererti beliau telah mendapat ijazah tersebut kerana beliau adalah dari keturunan Sayyiduna Husain.
Di antara gurunya juga ialah Abu al Faidh al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau mengambil Tariqat al Kattaniah yang dengannya beliau dinisbahkan dengan gelaran al Kattani.
Di antara gurunya juga ialah al Muhaddith Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari. Pada suatu ketika dulu, beliau pernah belajar bersama-sama Dr. Ali Jum’ah yang merupakan Mufti Mesir sekarang ini, dengan Syeikh Abdullah al Ghumari. Semasa belajar, beliau sering membetulkan bacaan Dr. Ali Jum’ah yang salah.
Di antara gurunya lagi, iaitu sanad beliau yang tertinggi ialah al Musnid Syeikh Abdul Hayy al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau meriwayatkan kitab sanadnya yang bertajuk Fahras al Faharis yang di dalamnya mengandungi senarai 700 orang gurunya. Beliau adalah antara guru yang amat dikasihi oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, begitu jugalah beliau. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki telah membaca kesemua kandungan kitab Jiyad al Musalsalaat karangan Imam Sayuti, al Iqd al Thamin karangan Imam al Ajluni t, Manzumah Aqidah Awam karangan Imam al Marzuqi, Matan Mustalah hadith al Imam al Baiquni dan sebahagian daripada Syamail al Muhammadiyyah Imam al Tirmizi dan Hikam Ibni Ata’illah al Sakandari dengannya. Beliau telah menulis ijazah khusus untuk Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebanyak dua kali.
SYEIKH USAMAH SA’ID. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan Membaca surah al Saf.
PROF. DR. SA’AD JAWISH. Beliau ialah seorang profesor hadith di Universiti al Azhar dan telah menulis ijazah khusus kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki
AL ALLAMAH SYEIKH ISMAIL IBN SODIQ AL ‘ADAWI, Imam Jami’ al Azhar. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki amat terkesan dengan ilmu-ilmu dan khutbah Jumaat yang disampaikan oleh beliau di Masjid al Azhar dan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sentiasa melaziminya. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah menegaskan, beliau merasakan zauq dan wujdan apabila mendengar khutbahnya kerana khutbahnya adalah ilham daripada Allah. Kenapa tidak beliau dianugerahkan nikmat sedemikian kerana beliau merupakan cucu kepada Abi al Barakat al Dardir. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga pernah mendengar pengajaran kitab al Syamail al Muhammadiah daripadanya.
AL MUHADDITH AL MU’AMMAR SYEIKH SA’AD BADRAN. Beliau telah meriwayatkan Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan mengijazahkan sanadnya yang tinggi di rumahnya di Dumyat Mesir. Beliau meriwayatkannya daripada syeikhnya, Abi al Nasr al Qauqaji, daripada ayahandanya Abi al Mahasin al Qauqaji, daripada al Sayyid ‘Abid al Sindi dengan sanadnya yang sampai hingga kepada Rasulullah.
Begitu juga Syeikh Abi al Nasr al Qauqaji meriwayatkan daripada al Syeikh Muhammad ibn Ahmad Yusuf al Bahi al Misri al Maliki al Azhari, daripada al Hafiz al Sayyid Abi al Fadhl Muhammad Murtadha al Zabidi dengan sanadnya yang sampai kepada Rasulullah.
AL MUHADDITH AL SUFI SYEIKH AHMAD IBN DARWISH. Beliau merupakan anak angkat kepada al Muhaddith Sayyid Abdullah al Ghumari t. Beliau telah digelar dengan al Sufi oleh Syeikhnya. Setengah dari kalangan ahli sufi mengatakan bahawa beliau adalah di antara abdal pada zaman ini. Beliau telah diijazahkan oleh Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari, mantan Mufti Mesir Syeikh Hasanain Makhluf, Muhaddith negara India Syeikh Habib al Rahman al A’zami dan lain-lain lagi. Beliau telah meriwayatkan Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan mengijazahkan segala ijazah dan sanadnya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Beliau juga telah mengijazahkan Tariqat al Syazuliyyah al Siddiqiyyah dan Salawat Dalail al Khairaat dan meminta Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mengadakan majlis bacaan salawat tersebut di madrasahnya.
MAKKAH AL MUKARRAMAH
DR. SAYYID MUHAMMAD IBN ‘ALAWI AL MALIKI. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Nasaih al Diniyyah, Sahih al Bukhari, Sunan Abi Daud, Fath al Mughith, Tafsir Ibnu Kathir, al Fawaid al Jalilah fi Musalsalat dan meriwayatkan daripadanya semua hadith Musalsal yang terdapat di dunia dan lain-lain. Beliau juga telah mengijazahkan Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, memakaikannya Khirqah Sufi dan memberikannya bai’ah yang tidak diberikan kepada semua orang melainkan hanya kepada segelintir daripada murid-muridnya dan mengamanahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki supaya menjadi khalifahnya. Beliau juga memberikan kepercayaan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk menterjemah dan menerbitkan kitab-kitab karangannya. Bahkan, beliau juga telah memberikan bantuan moral dan material kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk membangunkan madrasahnya.
SAYYID AHMAD IBN MUHAMMAD AL MALIKI. Beliau merupakan khalifah ayahandanya yang telah membai’ah dan memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan Khirqah Sufi.
DR.UMAR ABDULLAH KAMIL. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala kitab karangannya dan juga kitab sanadnya yang bertajuk al I’lam bi Ijazah al A’lam. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mempunyai hubungan yang rapat dengan beliau sehingga ke hari ini mereka sering berhubungan bagi mengadakan muzakarah ilmu.
Syeikh Ali Qaddur al Madani. Beliau berketurunan Sayyid Ahmad al Rifa’i dari sebelah ayahandanya dan Sayyid Abdul Qadir al Jailani dari sebelah bondanya. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala ilmu zahir dan batin termasuk Tariqat al Rifa’iyyah.
Al Habib Umar Hamid al Jailani. Beliau ialah keturunan Sayyid Abdul Qadir al Jailani. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan kitab sanad Mufti Johor al Habib Alawi Tahir.
DUBAI
DR. ISA IBN ABDULLAH IBN MANI’ AL HIMYARI, Menteri Waqaf Dubai. Beliau menegaskan bahawa Syeikh Muhammad Fuad al Maliki merupakan orang pertama yang diijazahkan olehnya.
AL ALLAMAH DR. AHMAD MUHAMMAD NUR SAIF, Pengerusi Pusat Penyelidikan Islam Dubai. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bi al Awwaliyah.
SYRIA
DR. MUHAMMAD MUTI’ IBN MUHAMMAD WASIL AL HAFIZ AL DIMASYQI, Pentashih al Quran di Kementerian Waqaf, Dubai. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah menerima hadith Musalsal bi al Awwaliyah, Musafahah dan Munawalah Subhah dan lain-lain daripadanya.
DR. KHALAF MUHAMMAD AL MUHAMMAD AL HALABI. Beliau mengijazahkan sanad yang diterimanya daripada Syeikh Muhammad Yaasiin al Fadani kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
SYEIKH HUSAIN SO’BIYYAH. Beliau adalah syeikh di Dar al Hadith al Asyrafiyyah, Damsyiq, tempat di mana Imam Nawawi pernah menjadi syeikh. Beliau telah meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan mengijazahkan ijazah-ijazah yang diterima daripada guru-gurunya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
YAMAN
SYEIKH ALI HAMID AHMAD ABDUH HASAN QASIM AL SO’FANI AL MAKKI AL YAMANI, Ahli Majlis Fatwa Kementerian Waqaf Dubai. Beliau telah menggelarkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan al Ariif billah (orang yang kenal Allah). Beliau pernah mengatakan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, “Apabila guru-guru kamu telah mengasihi kamu, maka akan dibukakan segala kefahaman ilmu ke dalam dada kamu.”
HABIB UMAR IBN MUHAMMAD IBN SALIM IBN HAFIZ, Mudir Dar al Mustafa. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebanyak tiga kali dan juga meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah, Musafah dan Musyabakah kepadanya. Beliau juga mengijazahkan kepadanya secara khusus kitab Iqaz al Himam fi Syarh al Hikam, Syarah Hikam Syeikh Zarruq dan Syarah Hikam Syeikh Abdul Majid al Syurbuni supaya Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dapat mengambil faedah daripadanya dalam urusan dakwah. Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk keluar berdakwah dan mengajar umat.
HABIB ALI AL JUFRI, Naib Mudir Dar al Mustafa. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Musalsal bi al Awwaliyyah dan Talqim serta mengijazahkannya
SUDAN
SAYYID MUSTAFA IBN IDRIS AL HASANI
SAYYID IBNU IDRIS AL HASSAN AL IDRISI
PROF. DR. SAYYID ABDUL WAHHAB AL TAZI AL IDRISI, Pensyarah di Universiti Islam Madinah al Munawwarah. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki al Khirqah al Sufiyyah
SAYYID AHMAD IBN IDRIS AL HASANI. Beliau menetap di Dunqala Sudan.
SAYYID MUHAMMAD IBN IDRIS AL HASANI. Beliau ialah Syeikh Tariqat Idrisiyyah al Ahmadiyyah dan menetap di Khartum sebagai khalifah ayahandanya Sayyid Idris al Idrisi.
SAYYID MUJADDIDI AL HASAN AL IDRISI. Beliau menetap di Khartum sebagai khadam di Masjid ayahandanya Sayyid Hasan al Idrisi.
MOROCCO
PROF. DR. FAROUQ HAMADAH. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bi al Awwaliyyah
DR. MUHAMMAD IBN KIRAN. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bil Awwaliyyah dan telah menulis ijazah khusus untuknya.
TUNISIA
AL ‘ALLAMAH SYEIKH MUKHTAR AL SALAMI. Beliau pernah menjawat jawatan sebagai Mufti Tunisia selama 13 tahun. Beliau telah meriwayatkan hadith Musalsal bil Awwaliyyah dan mengijazahkan segala kitab karangan dan amalannya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
MALAYSIA
TUAN GURU HAJI IBRAHIM BIN DAHAN– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Matla’ al Badrain, Hikam Ibni `Atoillah, Dur al Nafis, Minhaj al Abidin, Furu’ al Masail, Aqidah al Najiin, Sair al Salikin, Ahzab dan Aurad Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani dan lain-lain lagi. Beliau merupakan ‘Guru Saka’ di daerah Rembau yang banyak mendukung Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Beliau pernah mengambil cuti mengajar untuk menghadiri ceramah pertama Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sempena sambutan Maulid Nabi di Masjid Nerasau, Rembau dan menjemput Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menyampaikan syarahan Maulid Nabi di madrasahnya, Madrasah al Islamiah Haji Ibrahim, Kampung Bongek Acheh, Rembau.
Beliau belajar ilmu Falak daripada Tuan Guru Haji Wan Sulaiman bin Wan Sidiq (Syeikh al Islam Kedah) dan pernah berguru dengan Allahyarham Tok Kenali. Di antara kitabnya yang terkenal ialah Kitab Nur al Aulad dan beliau bertanggungjawab menyusun Taqwim Solat yang digunapakai di Negeri Sembilan, Melaka dan Selangor serta beberapa negeri lain sehingga ke hari ini. Beliau telah mengamanahkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menyambung kuliah hari Rabu selepas pemergiannya pada 3 Ogos 1997.
TUAN GURU HAJI ABDUL WAHID BIN UTHMAN– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Riyadh al Solihin, Tahzib Atraf al Hadith, Hikam Ibni Ato’illah, Tafsir al Quran dan lain-lain.
TUAN GURU MURSYID DIRAJA DATO’ HAJI TAJUDDIN IBN ABDUL RAHMAN– Beliau berasal dari Hadhramaut dan menjadi Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan sebelum kewafatannya. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar daripadanya ilmu Tauhid, Feqah, Usul Feqh dan ilmu Tasawwuf iaitu kitab Minhaj al Abidin. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan ijazah yang tidak pernah diijazahkannya kepada muridnya sebelum itu.
Beliau sangat mengasihi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan banyak memberikan galakan kepadanya. Beliau mengiktiraf keilmuan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan memberitahu kepada orang ramai bahawa Syeikh Muhammad Fuad al Maliki adalah seorang ulama’ besar.
TUAN GURU DATO’ ABDULLAH BIN SIJANG, bekas Qadhi Daerah Port Dickson. Beliau pernah mengijazahkan Tariqat Ahmadiah yang diterimanya daripada Tok Syafi’i dan sanad hadith yang diterimanya daripada Syeikh Hasan Masysyat di Makkah al Mukarramah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Sebelum kewafatannya, beliau pernah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki beberapa ilmu hikmah, kaifiat muraqabah dan fidyah orang mati.
TUAN GURU DATO’ HJ. NAWAWI BIN HASAN- Beliau pernah mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki ilmu Nahu; Nahu Wadhih dan Matan al Fiyyah di Ma’had Ahmadi Gemencheh
SAHIBUS SAMAHAH DATO’ HASAN BIN SAIL, bekas Mufti Kerajaan N.Sembilan. Beliau pernah mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kitab Hidayah al Sibyan di Surau Kg. Tengah, Rembau, N. Sembilan.
TUAN GURU SYEIKH ABDULLAH BIN ABDUR RAHMAN, Mudir Pondok Lubuk Tapah, Kelantan. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sanad yang diterimanya daripada Syeikh Yasin ibn Isa al Fadani al Hasani, Syeikh Abdul Qadir al Mandili, Sayyid Alawi ibn Abbas al Maliki dan mengijazahkan Tariqat Ahmadiah kepadanya.
TUAN GURU HAJI AHMAD BIN MUHAMMAD AJI. Beliau merupakan murid kepada Syeikh Ahmad, Mufti Kerajaan Negeri Sembilan dan Tuan Guru Haji Husin Langgar Kedah. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar beberapa buah kitab karangan al Marhum Syeikh Ahmad t daripadanya di Masjid Semerbok Rembau, N.Sembilan. Tetapi, apabila Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pulang dari al Azhar, beliau pula datang belajar dengannya kitab Syarah Hikam karangan Syeikh Ibnu ‘Ubbad dan kitab hadith Zad al Muslim karangan Syeikh Habib Allah al Syanqiti. Beliau menegaskan bahawa tiada lagi orang alim di Rembau kecuali Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
INDONESIA
SYEIKH ABDUL HAMID AL MAKKI. Beliau telah mengijazahkan dan meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
SYEIKH ABDUL KARIM AL BANJARI AL MAKKI. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kerap menghadiri majlis pengajiannya yang terletak di Masjid al Haram. Di antara kitab yang pernah dipelajari daripadanya ialah Kitab Dalil al Falihin dan beliau telah mengijazahkan secara khusus kitab sanad al Maslak al Jali kepadanya.
AL HABIB SOLEH AL ‘AIDARUS. Beliau ialah murid Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al Maliki.
SINGAPURA
TUAN GURU HAJI ABDUL RASHID BIN SYEIKH HAJI MUHAMMAD SA’ID – Matla’ al Badrain dan Sair al Salikin. Orang pertama yang mengijazahkan Tariqat Ahmadiah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sewaktu berusia 8 tahun.
SYEIKH AHMAD SONHAJI. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kitab tafsirnya yang masyhur, ‘Ibra al Athir di Majlis Agama Islam Singapura ketika beliau menghadiri majlis ceramah Syeikh Muhammad Fuad al Maliki di sana.
SAYYID AHMAD SEMAIT. Beliau telah mengijazahkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki semua kitab karangan dan terjemahannya.
Antara karya beliau ialah:
Rasulullah dan Sirah
1. Rasulullah dari Perspektif Imam Syafi’i
2. Maulid Nabi dalam Necara Nabawi
3. Rantaian Nasab Nabi
4. Kewajipan Mencintai dan Memuliakan Nabi (Terjemahan)
5. Hukum Menghina Nabi
6. Hidupnya Para Nabi di Dalam Kubur
7. Keunggulan Rasulullah
8. Ringkasan Sirah Nabawiyyah (Terjemahan)
9. Al Anwar al Nabawiyyah (Terjemahan)
10. Keistimewaaan Rasulullah
11. Mukhtasar Syamail Muhammadiah (Terjemahan)
12. Mu’jizat Isra’ dan Mi’raj
Manaqib dan Biografi
1. Sayyid Ahmad ibn Idris
2. Al Maliki: Ulama’ Rabbani Kurun ke-21
3. Hujjah al Islam Imam al Ghazali
4. Mendekati Sayyid Ja’afar al Barzanji
5. Al Imam Abu Hasan al ‘Asy’ari
6. Al Imam al Hafiz Jalaluddin al Suyuti
7. Biografi Syeikh Muhammad Harith
8. Manaqib Sayyidah Khadijah al Kubra
9. Sayyid Ibrahim al Rasyid
Tasawwuf
1. Hubungan Tasawuf Dengan Sunnah
2. Kewajipan Bertasawwuf (Terjemahan)
3. Qatr al Ghaithiyyah (Semakan dan Cetakan semula)
4. Hikam Abi Madyan (Semakan dan Cetakan Semula)
5. Hikam Syeikh Raslan (Terjemahan)
6. Adab-adab Salikin (Adaptasi)
7. Anwar al Sabil al Aqwam fi Syarh al Hikam
8. Adab Tariq (Terjemahan)
Zikir dan Amalan
1. Pancaran Nur Doa dan Zikir Ahli Akhyar (Terjemahan Syawariq al Anwar)
2. Lautan Zikir Ahli Arifin
3. Perisai Tiga Kekasih Allah
4. Kanz al Sa’adah (Tahqiq dan Terjemahan)
5. Ahzab wa Aurad Manhaj al Ahmadi al Idrisi (Tahqiq)
6. Doa Majlis Sayyid Ahmad ibn Idris
7. Aurad Ahmadiah dan Ratib Haddad
8. Hizib Bahr
9. Hizib al Imam Ghazali
10. Hizib Imam Nawawi
11. Salawat 40 (Terjemahan)
12. Manzumah Tawassul Asma’ al Husna (Cetakan Semula)
13. Amalan Bulan Rejab
14. Doa Malam Nisfu Sya’ban
15. Tazkirah Ramadhan
16. Amalan Bulan Safar al Khair
17. Amalan Bulan Zulhijjah
18. Amalan Awal Muharram dan Hari Asyura
19. Doa Untuk Ibu bapa dan Anak-anak
20. Duru’ al Wiqayah bi Ahzab al Himayah (Cetakan semula)
21. Surah Yaasin Kaifiat dan Doanya
22. Doa Sayyid Ibrahim al Rasyid
23. Wasilah Para ‘Abid
24. Doa Angin Ahmar
25. Amalan Memudahkan Rezeki
26. Amalan Menguatkan Ingatan dan Menghindari Was-was
27. Himpunan Ayat-ayat Penjaga
28. Solat Sunat Sayyid Ahmad ibn Idris
29. 40 Salawat Pilihan Ke atas Nabi
30. Jampi Penawar Dari al Quran (Terjemahan)
31. Ratib Hari Jumaat
32. Pendinding Diri
33. Amalan Menolak Wabak dan Bala
Aqidah dan Tauhid
1. Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah
2. Qawa’id al ‘Aqaid (Terjemahan)
3. Wahhabisme Dari Neraca Syara’
4. Kerapuhan Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah (Terjemahan)
5. Penjelasan Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah (Terjemahan)
6. Agamamu Dalam Bahaya (Terjemahan)
7. I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah (Cetakan semula)
8. Aqidah Awam (Terjemahan)
9. Pendapat Ahli Sunnah Yang Bertentangan Dengan Pendapat Wahhabi (Terjemahan)
Tafsir
1. Tafsir Surah al Fatihah (Tahqiq)
2. Tafsir Surah Dhuha
3. Tafsir Surah al Insyirah
4. Tafsir Surah al Kauthar
5. Tafsir Surah Yaasiin
Hadith
1. Musyahadah Ruh Insan Bertaqwa (Terjemahan)
2. Hadith 60: Kelebihan Ahli Bait (Terjemahan)
3. Kelebihan Memelihara dan Membiaya Anak Yatim
4. Kelebihan al Quran (Terjemahan)
5. Mutiara Nabawi (Terjemahan)
6. Mutiara Sa’adah (Terjemahan)
7. Kewajipan Mencintai dan Memuliakan Nabi (Terjemahan)
8. Hidayah al Mukhtar (Terjemahan)
9.Galakan Melakukan Amal Kebaikan (Terjemahan)
Feqah
1. Munyah al Musolli (Tahqiq)
2. Safinah al Naja (Terjemahan)
3. Hukum Membaca Basmalah
4. Hukum Mengikut Imam Yang Menyalahi Mazhab Makmum
5. Posisi Imam Ketika Solat Jenazah
6. Pendapat Ulama’ Hukum Mencium Tangan
Sanad dan Ijazah (Athbat)
1. Al Musalsalat al ‘Asyarah
2. Al Toli’ al Sa’id (Bahasa Arab)
3. Kunuz al Anwar al Muntakhab min Asanid al Akhyar (Bahasa Arab)
4. Al Jawahir al Ghawali min Asanid al Imam al Azhari (Bahasa Arab)
5. Musalsal Orang-orang Mulia
6. Al Yaqut al Nafis min Asanid al Muhaddith Sayyid Ahmad ibn Idris. (Bahasa Arab)
7. Fath al Rahman bi Asaniid Mufti Nejri Sembilan (Bahasa Arab)
8. Al Bahjah al Mardiyyah fi Musalsalat al Rembawiyyah (Bahasa Arab)
9. Bulugh al Amani al Muntakhab min al Musalsalat al Maliki (Bahasa Arab)
10.Sanad al Aurad al Qusyasyiah
11.Al Manhal al Karim fi Asaniid al Quran al ‘Azim (Bahasa Arab)
Lain-lain
1. Kefahaman Yang Wajib diperbetulkan (Terjemahan Mafahim Yajibu an Tusohhah)
2. Akhlak Salafussoleh (Terjemahan)
3. Qudwah Hasanah Dalam Manhaj Dakwah
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...